Table of Contents
- Ringkasan singkat
- Apa itu vibe coding?
- Siapa yang menemukan istilah vibe coding, dan kapan?
- Vibe coding, pemrograman dengan bantuan AI, dan agentic engineering: apa bedanya?
- Kenapa vibe coding begitu menggoda
- Sisi gelapnya, menurut data
- Pengalamanku membangun Hariku dengan AI
- Checklist VIBE: empat hal sebelum kamu menerima kode buatan AI
- V — Verifikasi
- I — Isolasi
- B — Backup dan Git
- E — Eksplanasi
- Kapan boleh vibe coding sepenuhnya, dan kapan jangan
- Tips untuk pemula di Indonesia
- Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Apa itu vibe coding?
- Siapa pencetus istilah vibe coding?
- Kapan istilah vibe coding pertama kali muncul?
- Kenapa vibe coding jadi Word of the Year?
- Apakah vibe coding aman?
- Apakah vibe coding cocok untuk pemula?
- Apa bedanya vibe coding dan agentic engineering?
- Apakah AI akan menggantikan programmer?
- Apakah tunanetra bisa vibe coding?
- Penutup
- Sumber
Beberapa bulan terakhir, hampir setiap orang yang tahu aku developer menanyakan hal yang sama: "Raf, vibe coding itu apa sih? Beneran bisa bikin aplikasi cuma dengan ngobrol sama AI?"
Aku bisa menjawabnya dari dua sisi. Sebagai developer tunanetra yang memakai NVDA setiap hari, aku membangun Hariku, aplikasi produktivitas yang aksesibel untuk Windows, dengan bantuan AI coding. Hasilnya sekarang ada 42 ekstensi di tokonya dan lebih dari 8.000 tes otomatis. Tapi aku juga sudah merasakan sendiri kapan AI menghemat waktu berminggu-minggu, dan kapan ia dengan sangat yakin menulis sesuatu yang salah.
Artikel ini merangkum semuanya: asal-usul istilahnya, apa kata data dan para ahli, dan checklist yang aku pakai sendiri sebelum menerima kode buatan AI.
Ringkasan singkat
- Vibe coding adalah cara membuat software dengan menyuruh AI menulis kodenya lewat bahasa sehari-hari, lalu menerima hasilnya tanpa benar-benar membaca kodenya.
- Istilah ini dipakai pertama kali oleh Andrej Karpathy, salah satu pendiri OpenAI dan mantan Direktur AI Tesla, dalam sebuah unggahan di X pada 2 Februari 2025.
- Istilah ini terpilih sebagai Word of the Year 2025 versi Collins English Dictionary (6 November 2025) dan masuk kamus Merriam-Webster: sebagai istilah slang & trending pada Maret 2025, lalu ke kamus resminya pada September 2026.
- Vibe coding sangat bagus untuk prototipe, eksperimen, dan alat pribadi, tapi berisiko untuk aplikasi yang menyimpan data orang lain. Riset Veracode (Juli 2025) menemukan celah keamanan pada 45% kode buatan AI yang diuji.
- Pada Februari 2026, Karpathy sendiri memperkenalkan istilah penerusnya, agentic engineering: AI tetap menulis hampir semua kode, tapi manusia mengawasi, menguji, dan bertanggung jawab.
- Pegangan dariku: Checklist VIBE, yaitu Verifikasi, Isolasi, Backup, Eksplanasi. Penjelasannya ada di bawah.
Apa itu vibe coding?
Secara sederhana, vibe coding adalah memberi tahu mesin apa yang kamu mau, bukan menulis kodenya sendiri baris demi baris. Kamu menjelaskan keinginanmu dalam bahasa biasa ("buatkan halaman daftar belanja yang bisa dicentang"), AI menulis kodenya, kamu menjalankannya, dan kalau ada error, kamu tempelkan pesan errornya kembali ke AI sampai jalan.
Bagian pentingnya ada di kata vibe. Dalam unggahan aslinya, Karpathy menggambarkan cara kerja yang sepenuhnya mengikuti arus, sampai kamu "forget that the code even exists" (lupa bahwa kodenya ada). Ia bercerita menerima semua perubahan dari AI tanpa membaca perbedaannya, dan banyak memerintah lewat suara sampai jarang menyentuh keyboard.
Karena itu, definisi yang menurutku paling jujur datang dari Simon Willison, programmer dan penulis yang banyak meneliti AI. Dalam tulisannya pada 19 Maret 2025, ia menegaskan bahwa vibe coding berarti membangun software dengan model bahasa besar (LLM) tanpa meninjau kode yang ditulisnya. Kalau kamu membaca, menguji, dan memahami kode buatan AI, itu bukan vibe coding. Itu pemrograman biasa yang dibantu AI.
Perbedaan ini penting, karena sekarang banyak orang menyebut semua pemrograman dengan AI sebagai vibe coding. Padahal risikonya sangat berbeda.
Siapa yang menemukan istilah vibe coding, dan kapan?
Istilah ini dicetuskan oleh Andrej Karpathy pada 2 Februari 2025 di platform X. Karpathy adalah salah satu pendiri OpenAI dan pernah memimpin tim AI di Tesla, jadi kata-katanya didengar banyak orang. Unggahan itu menyebar luas dan disukai puluhan ribu orang dalam sebulan.
Ini perjalanan istilahnya sejauh ini:
| Waktu | Peristiwa |
|---|---|
| 2 Februari 2025 | Karpathy memakai istilah "vibe coding" di X. Ia bercerita membuat proyek dengan editor AI Cursor sambil lebih banyak bicara daripada mengetik. |
| Maret 2025 | Y Combinator, inkubator startup ternama, melaporkan bahwa seperempat startup di angkatan Winter 2025 punya basis kode yang sekitar 95% ditulis AI. |
| Maret 2025 | Merriam-Webster mencantumkan "vibe coding" sebagai istilah slang & trending. |
| 19 Maret 2025 | Simon Willison menulis bahwa tidak semua pemrograman dengan AI adalah vibe coding. |
| Mei 2025 | Celah keamanan (CVE-2025-48757) ditemukan di aplikasi buatan platform vibe coding Lovable. Dari 1.645 aplikasi yang dipindai, 170 aplikasi membocorkan data penggunanya karena aturan akses database-nya tidak dipasang. |
| Juni 2025 | Andrew Ng, pakar AI dari Stanford, mengkritik nama itu: menurutnya, coding dengan AI adalah kerja intelektual yang melelahkan, bukan sekadar mengikuti vibe. |
| Juli 2025 | Agen AI di Replit menghapus database produksi milik SaaStr saat pendirinya, Jason Lemkin, sedang bereksperimen, padahal sudah diperintahkan untuk tidak mengubah apa pun. Replit lalu menambahkan pemisahan otomatis database pengembangan dan produksi. |
| Juli 2025 | Studi METR menemukan developer berpengalaman justru 19% lebih lambat saat memakai AI, padahal mereka merasa 20% lebih cepat. |
| Juli 2025 | Survei Stack Overflow terhadap lebih dari 49.000 developer: 84% memakai atau berencana memakai AI, tapi 46% tidak percaya pada akurasinya, dan sekitar 77% bilang vibe coding bukan bagian dari pekerjaan profesional mereka. |
| 30 Juli 2025 | Laporan Veracode menguji lebih dari 100 model AI dan menemukan 45% kode buatannya mengandung celah keamanan. |
| 6 November 2025 | Collins English Dictionary menobatkan "vibe coding" sebagai Word of the Year 2025. |
| Desember 2025 | Analisis CodeRabbit atas 470 pull request di GitHub: kode yang ikut ditulis AI punya sekitar 1,7 kali lebih banyak masalah besar dibanding kode tulisan manusia. |
| Januari 2026 | Bahkan Linus Torvalds, pencipta Linux, memakai vibe coding untuk alat visualisasi Python di proyek hobinya, bagian yang ia akui bukan keahliannya. |
| Februari 2026 | Tepat setahun kemudian, Karpathy memperkenalkan istilah agentic engineering sebagai cara kerja yang lebih disiplin. |
| September 2026 | Merriam-Webster memasukkan "vibe coding" ke kamus resminya, bersama 1.400 kata dan arti baru lainnya. |
Dalam waktu kurang dari dua tahun, sebuah unggahan iseng berubah menjadi istilah kamus, industri bernilai miliaran dolar, dan perdebatan besar di dunia software.
Vibe coding, pemrograman dengan bantuan AI, dan agentic engineering: apa bedanya?
Ketiganya sama-sama memakai AI. Bedanya ada pada seberapa jauh kamu memeriksa hasilnya.
| Vibe coding | Pemrograman dibantu AI | Agentic engineering | |
|---|---|---|---|
| Siapa yang menulis kode | AI | AI dan kamu | AI (agen yang bekerja sendiri) |
| Apakah kodenya dibaca | Tidak | Ya, baris demi baris | Ya, lewat review, tes, dan aturan |
| Ukuran keberhasilan | "Kelihatannya jalan" | Kode bisa dijelaskan dan diuji | Tes otomatis, review, dan pengawasan |
| Cocok untuk | Prototipe, alat pribadi, belajar | Pekerjaan sehari-hari | Proyek besar dengan banyak tugas |
| Siapa yang bertanggung jawab | Tidak jelas | Kamu | Kamu, sebagai pengawas |
Agentic engineering adalah istilah yang dipakai Karpathy pada Februari 2026. Idenya: menulis kode langsung bukan lagi cara utama. Kita mengatur agen AI yang menulis kode, sementara manusia menetapkan arah, batasan, tes, dan memeriksa hasilnya. Kata engineering di situ sengaja dipilih: ini keahlian yang bisa dipelajari dan butuh disiplin, bukan sekadar vibe.
Cara aku membangun Hariku sekarang paling dekat dengan kolom ketiga.
Kenapa vibe coding begitu menggoda
Aku nggak mau pura-pura vibe coding itu buruk. Ada alasan kenapa istilah ini meledak:
- Dari ide ke prototipe dalam hitungan jam. Hal yang dulu butuh berhari-hari, seperti menyiapkan proyek, menulis kode yang berulang, atau menyambungkan API, sekarang bisa selesai sore itu juga.
- Pintu masuk untuk yang bukan programmer. Pemilik usaha, guru, atau desainer bisa membuat alat kecil untuk kebutuhannya sendiri tanpa menunggu tim developer.
- Membuang pekerjaan yang membosankan. AI sangat cepat untuk kode rutin, sehingga energimu bisa dipakai untuk memikirkan apa yang sebenarnya dibutuhkan pengguna.
- Bagi aku sebagai tunanetra, ini juga soal aksesibilitas. Banyak alat pemrograman yang nggak ramah pembaca layar. Menjelaskan maksud dengan kalimat, lalu meminta AI menjelaskan kembali apa yang ia ubah, sering lebih cepat daripada menelusuri ratusan baris kode dengan NVDA. AI ngasih aku cara lain untuk "melihat" proyek besar.
Sisi gelapnya, menurut data
Masalahnya, kelihatan jalan tidak sama dengan benar. Ini yang ditunjukkan riset-riset sejak 2025:
- Keamanan. Veracode menemukan bahwa saat diberi pilihan antara cara aman dan tidak aman, model AI memilih yang tidak aman pada 45% kasus. Kasus Lovable menunjukkan akibat nyatanya: data pengguna di ratusan aplikasi bisa dibaca siapa saja.
- Agen yang terlalu berani. Kasus Replit dan SaaStr membuktikan bahwa agen AI yang punya akses ke sistem sungguhan bisa melakukan hal yang merusak, bahkan setelah diperintahkan untuk tidak melakukannya.
- Merasa cepat, padahal lambat. Studi METR mengukur developer berpengalaman di proyek yang mereka kenal baik. Hasilnya lebih lambat 19%, padahal mereka yakin lebih cepat. Waktu habis untuk membaca, memperbaiki, dan mengulang hasil AI.
- Kualitas kode menurun. Selain temuan CodeRabbit, analisis GitClear atas 211 juta baris kode menemukan duplikasi kode meningkat sekitar empat kali lipat, sementara perbaikan struktur kode (refactoring) turun drastis.
- Kepercayaan menurun. Semakin banyak developer memakai AI, semakin banyak yang tidak percaya pada akurasinya (Stack Overflow 2025).
- Kamu tidak benar-benar memiliki kodenya. Kalau aplikasi rusak dengan cara yang halus, tanpa pesan error yang jelas, memperbaikinya butuh pemahaman. Kalau kamu hanya bisa menyuruh AI "perbaiki", kamu bisa terjebak dalam lingkaran: AI memperbaiki satu hal dan merusak hal lain.
Pengalamanku membangun Hariku dengan AI
Hariku dibangun dengan bantuan AI coding, dan aku tidak menyembunyikannya. Tapi Hariku bukan hasil vibe coding dalam arti aslinya, dan ini alasan terpentingnya:
Setiap perubahan harus lolos tes otomatis. Hariku punya lebih dari 8.000 tes yang berjalan setiap kali ada perubahan. Ada juga pemeriksaan khusus aksesibilitas, misalnya memastikan setiap kolom di jendela punya label yang dibacakan NVDA dengan benar. AI boleh menulis kode, tapi tes yang memutuskan kode itu diterima atau tidak.
AI sering sangat yakin, dan tetap salah. Pernah AI menyebut tanggal rilis sebuah program dengan sangat meyakinkan, ternyata salah lebih dari setahun. Pernah juga dokumentasi berbahasa Inggris yang ditulis AI justru berisi contoh-contoh berbahasa Indonesia. Kesalahan seperti ini tidak terdeteksi oleh tes. Aku menemukannya karena benar-benar membaca hasilnya.
AI tidak tahu mana yang rahasia. Ia tidak tahu file mana yang boleh dibagikan ke publik, mana kunci API yang harus disembunyikan, atau server mana yang tidak boleh disentuh. Batasan seperti itu harus kamu yang menetapkan, sejak awal, secara tertulis.
Izin itu penting. Aku tidak pernah memberi AI kata sandi, dan setiap tindakan yang tidak bisa dibatalkan, seperti menghapus data, mengubah server, atau mengirim sesuatu ke publik, harus menunggu persetujuanku. Kasus Replit adalah contoh kenapa aturan ini ada.
AI membuatku lebih produktif, bukan menggantikanku. Aku tetap yang memutuskan fitur apa yang dibutuhkan pengguna tunanetra, bagaimana sesuatu harus terdengar di pembaca layar, dan kapan sesuatu siap dirilis. AI tidak tahu rasanya memakai aplikasi dengan telinga. Aku tahu.
Checklist VIBE: empat hal sebelum kamu menerima kode buatan AI
Ini pegangan yang aku pakai sendiri, dan aku namai Checklist VIBE supaya gampang diingat:
V — Verifikasi
Jangan percaya kalimat "sudah selesai, sudah jalan". Minta AI menulis tes otomatis, jalankan tesnya, dan coba sendiri skenario yang tidak biasa: input kosong, internet mati, data sangat banyak. Kalau tidak bisa dibuktikan, anggap belum jalan.
I — Isolasi
Pisahkan hal-hal berbahaya dari jangkauan AI:
- Rahasia: kata sandi, kunci API, dan token tidak pernah ditempel ke chat dan tidak pernah ditulis langsung di kode.
- Lingkungan: bereksperimen di salinan atau database percobaan, bukan di sistem yang dipakai orang sungguhan.
- Izin: tindakan yang tidak bisa dibatalkan harus menunggu persetujuanmu.
B — Backup dan Git
Pakai Git dan simpan perubahan dalam langkah-langkah kecil, supaya kamu selalu bisa mundur ke versi yang terakhir kali benar. Sebelum perubahan besar, buat cadangan dulu. Ini yang menyelamatkan kamu waktu AI salah langkah.
E — Eksplanasi
Untuk apa pun yang akan dipakai orang lain, jangan simpan kode yang tidak bisa kamu jelaskan. Minta AI menjelaskan apa yang ia ubah dan kenapa, dengan bahasa sederhana. Kalau penjelasannya tidak masuk akal, itu tanda bahaya.
Kapan boleh vibe coding sepenuhnya, dan kapan jangan
| Silakan vibe coding | Jangan vibe coding, pakai Checklist VIBE |
|---|---|
| Prototipe untuk menguji ide | Aplikasi yang menyimpan data pengguna |
| Script atau alat untuk diri sendiri | Apa pun yang menyangkut uang dan pembayaran |
| Proyek hackathon atau iseng di akhir pekan | Data kesehatan, data pribadi, atau data anak |
| Belajar mengenal bahasa atau library baru | Aplikasi yang dipakai banyak orang setiap hari |
| Bagian kecil di luar keahlianmu (seperti Linus Torvalds dan alat visualisasinya) | Proyek yang harus dirawat bertahun-tahun |
Aturan praktisku: semakin banyak orang yang bergantung pada aplikasimu, semakin sedikit "vibe" yang boleh ada di dalamnya.
Tips untuk pemula di Indonesia
- Tetap pelajari dasar-dasarnya. Kamu tidak perlu hafal sintaks, tapi pahami cara membaca pesan error, apa itu database, dan bagaimana data dikirim di internet. Tanpa itu, kamu tidak bisa menilai hasil AI.
- Kenali Git sejak hari pertama. Ini sabuk pengamanmu.
- Pelajari dasar keamanan web, seperti autentikasi, hak akses database, dan validasi input. Hampir semua kebocoran di aplikasi buatan AI berasal dari sini.
- Minta AI menjadi guru, bukan hanya tukang. Tanyakan "kenapa begini?" dan "apa risikonya?". Pemahamanmu akan tumbuh jauh lebih cepat.
- Mulai dari masalahmu sendiri. Proyek terbaik untuk belajar adalah alat yang benar-benar kamu butuhkan, karena kamu tahu persis kapan hasilnya benar.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Apa itu vibe coding?
Vibe coding adalah cara membuat software dengan menyuruh AI menulis kode lewat bahasa sehari-hari, lalu menerima hasilnya tanpa meninjau kodenya. Istilah ini sering dipakai lebih luas untuk semua pemrograman dengan AI, padahal pemrograman yang hasilnya dibaca dan diuji lebih tepat disebut pemrograman dengan bantuan AI.
Siapa pencetus istilah vibe coding?
Andrej Karpathy, salah satu pendiri OpenAI dan mantan Direktur AI di Tesla.
Kapan istilah vibe coding pertama kali muncul?
Pada 2 Februari 2025, dalam unggahan Karpathy di X (dulu Twitter).
Kenapa vibe coding jadi Word of the Year?
Collins English Dictionary memilihnya sebagai Word of the Year 2025 (diumumkan 6 November 2025) karena pemakaiannya melonjak tajam sejak Februari 2025. Istilah ini menggambarkan perubahan besar dalam cara manusia membuat software.
Apakah vibe coding aman?
Untuk prototipe dan alat pribadi, cukup aman. Untuk aplikasi yang menyimpan data orang lain, berisiko jika kodenya tidak diperiksa: riset Veracode menemukan celah keamanan pada 45% kode buatan AI yang diuji. Pakai tes otomatis, pisahkan rahasia, dan tinjau kodenya, seperti dalam Checklist VIBE.
Apakah vibe coding cocok untuk pemula?
Cocok untuk mulai membuat sesuatu dan tetap termotivasi, tapi jangan sampai menggantikan belajar dasar. Tanpa dasar, kamu akan kesulitan saat aplikasimu rusak dengan cara yang tidak jelas.
Apa bedanya vibe coding dan agentic engineering?
Vibe coding berarti menerima kode AI tanpa memeriksanya. Agentic engineering, istilah Karpathy dari Februari 2026, berarti AI tetap menulis sebagian besar kode, tapi manusia mengarahkan, membatasi, menguji, dan mengawasi agen-agen AI tersebut secara disiplin.
Apakah AI akan menggantikan programmer?
Yang berubah adalah pekerjaannya: lebih sedikit mengetik kode, lebih banyak merancang, memeriksa, dan memutuskan. Orang yang paham masalahnya, penggunanya, dan cara menguji hasilnya justru semakin dibutuhkan.
Apakah tunanetra bisa vibe coding?
Bisa. Aku membangun Hariku sebagai developer tunanetra dengan bantuan AI dan pembaca layar NVDA. Menjelaskan maksud dengan kalimat dan meminta AI merangkum perubahannya membuat proyek besar lebih mudah dikelola dengan telinga. Tapi prinsipnya sama untuk semua orang: verifikasi, isolasi, backup, dan pahami hasilnya.
Penutup
Vibe coding adalah salah satu perubahan terbesar dalam cara kita membuat software, dan aku menikmatinya setiap hari. Tapi AI adalah rekan kerja yang sangat cepat, bukan pengganti tanggung jawab. Kodenya boleh ditulis AI. Keputusannya, keamanannya, dan rasa hormat pada data penggunamu tetap milikmu.
Kalau kamu ingin melihat hasilnya secara nyata, coba Hariku. Aku pernah menceritakan perjalanan membangunnya dari nol di tulisan Growing Up with Hariku.
— Rafli, InfiArtt
Sumber
- Andrej Karpathy, unggahan di X tentang "vibe coding", 2 Februari 2025. Ringkasan dan konteksnya: Wikipedia, "Vibe coding".
- Simon Willison, "Not all AI-assisted programming is vibe coding (but vibe coding rocks)", 19 Maret 2025.
- TechCrunch, "A quarter of startups in YC's current cohort have codebases that are almost entirely AI-generated", 6 Maret 2025.
- CNN via KVIA, "Vibe coding named Collins Dictionary's Word of the Year", 6 November 2025.
- Merriam-Webster, "vibe coding", dan Fox Business, "Merriam-Webster welcomes 'looksmaxxing,' 'vibe coding' and 'cuffing season' to new word list", 20 September 2026.
- Superblocks, "Lovable Vulnerability Explained: How 170+ Apps Were Exposed" (CVE-2025-48757).
- Business Insider via AOL, "Andrew Ng says vibe coding is a bad name for a very real and exhausting job", Juni 2025.
- Fortune, "AI coding tool Replit wiped database, called it a catastrophic failure", 23 Juli 2025.
- eWeek, "Surprise: Developers Using AI Take 19% Longer on Tasks" (studi METR), Juli 2025.
- Stack Overflow, "2025 Developer Survey Reveals Trust in AI at an All Time Low", Juli 2025.
- Veracode, "AI-Generated Code Poses Major Security Risks in Nearly Half of All Development Tasks", 30 Juli 2025.
- Phoronix, "Linus Torvalds' Latest Open-Source Project Is AudioNoise - Made With The Help Of Vibe Coding", Januari 2026.
- The New Stack, "Vibe coding is passé. Karpathy has a new name for the future of software", Februari 2026.
- Wikipedia, "Vibe coding", untuk ringkasan studi CodeRabbit (Desember 2025) dan GitClear (2025).
Komentar 0