Table of Contents
Editor: Rino Jefriansyah, S. S.   Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hai hai haaaaaiiiii visitor! Kembali lagi dengan karya terbaru! Setelah dua (2) postingan sebelumnya tentang tekhnologi, kini di postingan ketiga ada yang berbeda. Apakah itu? Baca sampai selesai!

Pendahuluan

Empat (4) bulan lalu, di seluruh Indonesia, khususnya Sobat Ambyar kehilangan seorang maistro yang punya dedikasi yang tinggi dan bersahaja. Tiga (3) dekade perjalanan karirnya sebagai seniman berawal menjadi pengamen di grup Kelompok Pengamen Trotoar (Kempot) di Jakarta tahun 1986, hingga sukses membuat sebuah karya yang menyentuh hati para penggemarnya, yaitu Didi Kempot. Saya tidak membahas biografinya almarhum, tetapi saya ingin berbagi cerita sejak masih kecil sampai sekarang mendengar lagu-lagu karya beliau. Bukan karena suaranya yang khas atau musiknya yang enak didengar, justru liriknya yang menyentuh hati. Wajar, kebanyakan penggemar setelah mendengar lagu-lagu itu akan terbawa perasaannya (baper). Bahkan tak jarang dari mereka ada yang “termehek-mehek” karena saking sedihnya. Sudah banyak sekali lagu yang beliau tulis. Di antaranya:
  1. Tanjung Emas Ninggal Janji;
  2. Sewu Kutha;
  3. Aku Kangen Kowe;
  4. Stasiun Balapan;
  5. Kalung Emas;
  6. Sewu Siji;
  7. Aku Dudu Raja;
  8. Sampai Suket Teki;
  9. Pamer Bojo;
  10. Dalan Anyar;
  11. Tatu;
  12. Ati Dudu Wesi;
  Apakah hanya lagu sedih saja? Tidak. Semua lagu karya beliau sedih 100%, ada juga karya-karya beliau yang lain yang membuat geli. Seperti:
  1. Kesetrum Tresna;
  2. Pokoke Melu;
  3. Mangsuk Angin;
  4. Kelasa Apa Kasur;
  5. Burungku Flu;
  6. Gelombang Cinta;
  7. Yuni Wo Ai Ni;
  8. Ban Nggembos;
  9. Adus Apa Raup;
  10. Terkinthil-kinthil;
  11. Jamu Apa Jampi;
  12. Plong;
  13. Cintaku Sekonyong-konyong Kodher;
  14. Konco Pasar;
  15. Kelengkeng Mbandhungan;
  16. Masih banyak lagi.
Apakah masih ada? Wow! Masih! Ini bertemakan religi setelah beliau masuk Islam! Apa saja judulnya? Berikut daftarnya:
  • Dina Jumat
  • Dina Riaya
  • Dina Bada
  • Tumindakna Ajarane Agama
  • Masih banyak lagi.
Dari semuanya itu, ada yang menjadi faforit saya. Yaitu:
  1. Plong;
  2. Suket Teki;
  3. Pamer Bojo;
  4. Cidra;
  5. Sisanya lagu-lagu religi.
Selain lagu-lagu yang saya sebutkan di atas, ada juga lagu-lagu yang populer diubah bahasanya menjadi Bahasa Jawa! Apa saja? Berikut daftar lagu-lagunya:
  1. Kuch Kuch Hotahe = Tepung Pisanan
  2. Ada Apa Denganmu = Ana Apa Awakmu
  3. Munajat Cinta (Lirik Bahasa Jawa)
  4. Kucing Garong = Kucing Gering
  5. Ketahuan = Kowe Konangan
  6. Duda (Lagu Dangdut Qoshidah lirik Bahasa Jawa)
  7. Love Somebody = Lasinem Kowe Telat

Inti Cerita

Sejak tahun 90-an, (sejak masih kecil), saya sering mendengarkan radio. Di saat itu radionya dengan frekuensi AM, dan radio FM belum banyak tidak seperti sekarang. Di stasiun radio-radio tertentu, ada acara yang memutar lagu almarhum selama sejam full. Ada juga yang sampai dua (2) jam tergantung dari program stasiun radio itu sendiri. Di situlah saya mendengarkan semua karya beliau komplit dari Sewu Kutha sampai Ambyar. Apabila diceritakan dengan rinci, panjang sekali dan menghabiskan halaman  demi halaman di situs ini. Sebagai seorang difabel netra, mendengar adalah bagian dari hidup dalam keseharian. Meski alat penglihatan ini tidak berfungsi, namun Tuhan (Allah Ta'ala) masih memberikan kurnia-Nya berupa pendengaran. Apa saja yang di dengar? Banyak sekali! Salah satunya lagu karya beliau yang diputar setiap hari di berbagai stasiun radio di Indonesia, bahkan manca negara seperti Suriname dan negara-negara lainnya. Maka tak heran, beliau dikenal oleh semua kalangan dari Uwong Cilik sampai Kaum Elit. Seni yang beliau geluti selama hidupnya telah menyatukan masyarakat termasuk kaum difabel. Jika mendengar kata ambyar misalnya, pasti semua orang menjawab Om Didi Kempot. Kaum milenial pun tak ketinggalan. Buktinya, mereka juga suka dengan lagu-lagu beliau. Bahkan, ada juga yang meng-cover lagu beliau seperti Tatu, Pamer Bojo, dan Banyu Langit. Apakah kaum difabel tidak ikut serta dalam menyumbangkan suaranya dalam rangka melantunkan lagu karya beliau? Jelas ada yang ikut serta. Salah satu sobat kita bernama Dimas Arda, yaitu seorang difabel netra yang usianya masih kecil asal Sragen yang melantunkan beberapa lagu beliau. Sampai-sampai, Dimas Arda ini diajak masuk dapur rekaman. Bagi saya , ini sungguh membuat saya terharu sebagai sesama kaum difabel yang mendengar suaranya Dimas Arda yang menyentuh hati. Salah satu lagu yang membuat saya mau menangis adalah lagu yang berjudul Ibu. Masya Allah! Liriknya, penghayatannya, dan musiknya mendukung kondisi hati yang merindukan sang ibu. Lagu yang lain di antaranya adalah Tatu, Ora Bisa Mulih, dll. Tak hanya orang Indonesia saja yang menyanyikan lagu-lagu karya beliau, ada juga orang manca negara juga bisa menyanyikan dengan fasih dan terdengar jelas. Salah satunya lagu Banyu Langit yang versi acoustic. Yang menyanyikan lagu tersebut orang manca asal Amerika Serikat. Saya lupa namanya, yang jelas suaranya bagus. Terus saat konser, semua orang berdatangan dari muda, tua, anak-anak, dewasa, laki-laki, perempuan, miskin, kaya, berkumpul dalam satu tempat untuk menonton konser dan bersama-sama bernyanyi juga berjoget Cendhol Dhawet di acara itu. Sebelum beliau tutup usia, almarhum mengadakan acara konser dari rumah. Bekerjasama dengan salah satu stasiun TV swasta Nasional. Di konser itu, tidak hanya menyanyikan dan joget-joget di rumah. Di acara yang diselenggarakan pada 10 April lalu, juga menerima donasi untuk korban terdampak COVID-19. Dana yang terkumpul hingga meliaran. Saya lupa berapa miliar dana yang terkumpul, namun sungguh luar biasa antusias Sobat Ambyar bersama-sama berdonasi untuk mereka yang membutuhkan. Ditambah lagi dengan kepribadian sang maistro yang rendah hati, peduli pada sesama, dan menyatu dengan masyarakat termasuk rakyat kecil. Sesukses beliau saat ini, dia tidak lupa dengan asal-muasalnya saat masih di jalanan. Terakhir, beliau punya single baru, salah satunya soal himbauan terkait mewabahnya Virus Corona (COVID-19) di dunia terlebih Indonesia. Judulnya Ojo Mudik. Saya suka dengan liriknya yang sederhana, tetapi mengena dan bikin tertawa. Cari saja di YouTube dengan kata kunci "Ojo Mudik". Pernah di Bulan Juli lalu, saya menyanyikan lagu itu di aplikasi WeSing dan diunggah di channel YouTube. Diakhir postingan, saya sertakan sematannya. Mohon maaf, suara saya kurang all out dalam bernyanyi.

Closing Statement

Itu tadi cerita saya tentang pengalaman sejak kecil mendengarkan lagu-lagu karya almarhum Om Didi Kempot. Semoga kita bisa menambil pelajaran dari perjalanan beliau dari nol sampai sekarang hingga tutup usia. Adapun saran, kritik, pertanyaan, juga masukan, visitor bisa coret-coret di kolom komentar yang sudah disediakan di situs ini. Atau visitor bisa tanya-tanya langsung di WA saya Di sini , via telegram saya @prima_001 , atau bisa gabung ke grup resmi situs ini via telegram di sini! Akhir kata, tetap semangat, jaga kesehatan dengan olahraga, pola malan dijaga dengan gizi seimbang, patuhi protokol kesehatan COVID-19, hindari berita palsu (hoax) yang membebani psikologis kita. Atur emosi kita, dan salam sehat, salam smart people! Jangan lupa dengarkan lagu Ojo Mudik karya almarhum Didi Kempot yang saya nyanyikan di YouTube. Terimakasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.