Table of Contents
Hai, InfiFriend. Aku ingin membahas Sedikit keresahan soal gaya mengetik yang dianggap kaku, tua, atau jutek Oleh Gen Z Kebanyakan. Padahal aku sendiri juga Gen Z, sih.
InfiFriend. Pernah nggak, sih, waktu kamu lagi chatting-an, lalu dikira lagi marah sama temenmu gara-gara kamu mengawali chat dengan huruf kapital dan mengakhirinya dengan tanda titik?
Beberapa waktu terakhir, aku menemukan video dan komentar di TikTok yang membahas cara orang mengetik pesan. Ada yang menganggap chat dengan huruf kapital di awal kalimat terlihat kaku, tua, atau jadul. Ada juga yang merasa tanda titik di akhir kalimat membuat pesan terdengar sombong, marah, jutek, bahkan seperti sedang menyindir. Katanya, ini adalah kebiasaan Gen Z yang merasa menulis dengan diawali kapital dan diakhiri kalimat dengan tanda titik itu aneh.
Aku sempat bertanya-tanya: sejak kapan huruf kapital dan titik jadi penentu suasana hati seseorang?
Aku paham kalau cara orang berkomunikasi di internet memang punya kebiasaannya sendiri. Banyak orang nyaman mengetik dengan huruf kecil semua, memakai singkatan, atau tidak mengakhiri pesan dengan tanda baca. Itu bukan masalah. Yang membuatku resah adalah ketika gaya mengetik yang berbeda langsung dijadikan alasan untuk menilai seseorang. Seolah-olah menulis dengan ejaan yang rapi berarti kaku, tua, atau tidak asyik, sementara mengetik tanpa kapital dan titik otomatis terasa lebih santai.
Huruf kapital dan titik bukan kode emosi
Kalau kita mengingat lagi pelajaran bahasa Indonesia, huruf kapital digunakan pada awal kalimat, sedangkan tanda titik dipakai untuk mengakhiri kalimat pernyataan. Aturan ini ada dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) tentang penggunaan huruf kapital dan tentang pedoman penggunaan tanda titik. Hal ini juga dibahas dalam EYD Edisi V. Fungsinya sederhana: membantu pembaca mengenali awal kalimat dan mengetahui bahwa sebuah gagasan sudah selesai. Tidak ada aturan ejaan yang menyebut bahwa huruf kapital berarti tua atau tanda titik berarti marah.
Misalnya, saat aku menulis “Ok.”, bisa saja aku hanya ingin menulis kalimat dengan lengkap. Bukan berarti aku lagi marah, menjaga jarak, atau sengaja bersikap jutek. Sebaliknya, orang yang menulis “ok” tanpa titik mungkin memang lebih nyaman dengan gaya itu. Dari satu kata dan tanda baca saja, rasanya terlalu cepat kalau kita langsung menyimpulkan perasaan penulisnya, kan?
Kenapa tanda titik bisa terasa jutek?
Menurutku, kesan itu muncul karena kebiasaan membaca chat yang berbeda-beda. Dalam percakapan sehari-hari di aplikasi perpesanan, satu kata sering dianggap sudah cukup tanpa tanda titik. Ketika seseorang menambahkan titik, sebagian pembaca merasa ada penekanan yang tidak biasa, lalu menafsirkannya sebagai nada dingin atau ketus. Padahal, itu lebih berkaitan dengan kebiasaan membaca pesan daripada makna mutlak tanda titik itu sendiri.
Beberapa tulisan tentang gaya komunikasi digital, misalnya di Yoursay dan IDN Times, juga membahas bagaimana pesan singkat, tanda baca, dan emoji bisa dimaknai secara berbeda. Ada orang yang melihat pesan singkat sebagai cara berkomunikasi yang praktis, sementara orang lain membaca detail seperti tanda titik sebagai isyarat suasana hati. Akibatnya, pesan yang sama bisa terasa biasa saja bagi satu orang, tetapi terdengar ketus bagi orang lain.
Satu contoh kecil, nih, Infi Friends. Kamu tahu, nggak, kalau emoji menangis dengan air mata berderai (😭) sering dipakai Gen Z untuk mengekspresikan sesuatu yang lucu, bukan berarti mereka sedang sedih sampai menangis tersedu-sedu, loh. Padahal, kita juga punya emoji tertawa sampai menangis (😂) yang secara visual lebih menggambarkan ekspresi tersebut.
Namun, di dunia digital—lagi-lagi terutama buat Gen Z, emoji ternyata nggak selalu digunakan sesuai dengan makna yang terlihat dari bentuknya. Ada kebiasaan dan pemaknaan yang berkembang di lingkungan tertentu, sehingga satu emoji bisa punya arti berbeda bagi orang yang berbeda. Sekali lagi, ini soal perspektif, kebiasaan, dan pengalaman masing-masing.
Hal yang sama berlaku untuk huruf kecil. Mengetik dengan huruf kecil semua bukan berarti malas, tidak sopan, atau tidak bisa berbahasa Indonesia. Bisa jadi itu memang gaya yang terasa lebih ringan untuk percakapan santai. Jadi, menurutku, persoalannya bukan soal siapa yang benar atau salah dalam memilih gaya chat, melainkan bagaimana kita memahami kebiasaan orang lain tanpa buru-buru memberi label.
Gaya chat juga bergantung pada situasi
Kita punya ragam bahasa yang bisa disesuaikan dengan lawan bicara dan situasinya. Saat mengirim pesan kepada dosen, atasan, atau klien, penggunaan huruf kapital dan tanda baca yang jelas bisa membantu pesan terlihat rapi dan mudah dipahami. Sementara itu, ketika mengobrol dengan teman dekat, huruf kecil dan gaya yang lebih santai mungkin terasa lebih akrab. Dua-duanya bisa sesuai, selama kita mempertimbangkan konteks dan kenyamanan orang yang diajak bicara.
Sebuah kuesioner kecil yang dibahas oleh Tatkala pada 2025 juga menggambarkan kebiasaan ini. Dari 10 responden berusia 21 sampai 23 tahun, kebanyakan lebih sering memakai huruf kecil saat chat, tetapi tetap menyesuaikan cara menulis ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, dosen, atau atasan. Jumlah respondennya memang sedikit, jadi tentu tidak bisa mewakili semua Gen Z. Namun, ini mengingatkan kita bahwa satu generasi pun tidak selalu punya kebiasaan komunikasi yang sama.
Memudahkan dalam membaca isi teks bagi pengguna pembaca layar
Ada satu hal lagi yang mungkin tidak selalu terpikirkan oleh teman-teman kita, sesama pengguna pembaca layar: tanda baca juga membantu pembaca layar menentukan jeda ketika teks dibacakan. Dalam chat pendek, tidak adanya titik mungkin tidak terlalu mengganggu. Namun, untuk pesan yang panjang atau penting, tanda baca dapat membantu isi pesan lebih mudah diikuti. Jadi, tanda baca bukan semata-mata soal terlihat formal; tanda baca juga membantu struktur tulisan lebih jelas.
Jadi, apa yang bisa direnungkan dari curhatan ke sana ke mari ini?
Menurutku, kita tidak perlu memaksa semua orang mengetik dengan gaya yang sama. Kalau seseorang lebih nyaman memakai huruf kecil tanpa titik, silakan. Kalau orang lain terbiasa menggunakan huruf kapital dan tanda baca lengkap, itu juga tidak masalah. Kita bisa menyesuaikan gaya ketika situasinya memang membutuhkan, tanpa harus menganggap salah satu gaya lebih keren atau lebih tua daripada yang lain.
Kalau sebuah pesan terasa ketus, coba lihat juga konteks percakapan, pilihan katanya, dan hubungan kita dengan orang yang mengirimnya. Kalau masih ragu, bertanya langsung jauh lebih masuk akal daripada menebak-nebak suasana hati hanya dari sebuah titik. Kita juga bisa memberi tahu orang lain tentang gaya chat yang membuat kita nyaman, tanpa menjadikannya aturan yang harus diikuti semua orang.
Pada akhirnya, keresahanku bukan karena semua orang harus selalu menulis sesuai kaidah formal ketika sedang chat. Aku hanya merasa sayang kalau huruf kapital dan tanda titik yang sebenarnya biasa saja justru membuat seseorang dicap kaku, tua, sombong, atau marah. Menulis “Ok.” tidak otomatis berarti jutek. Menulis “ok” tanpa titik juga tidak otomatis berarti malas atau tidak sopan. Bisa jadi, kita hanya terbiasa dengan cara menulis yang berbeda. Rasanya akan lebih nyaman kalau perbedaan itu bisa diterima tanpa buru-buru menilai orang di balik layar, kan?
Sekian sedikit curhat dan keresahan dariku sebagai Gen Z ini. Pada akhirnya, kita semua punya kebiasaan berkomunikasi yang berbeda. Jadi, daripada buru-buru over thinking sama seseorang, mungkin ada baiknya kita coba untuk mengerti dan memahami satu sama lain. Lagi pula, kalau nulis dengan kapital dianggap kaku dan lagi marah-marah, apalagi kayak aku, yang nggak sadar kalau lagi nulis chat dengan huruf kapital yang jebol semua?
Komentar 0