TeamTalk, Media Sosial Milik Tunanetra

Sekarang ini, media sosial menjadi teknologi yang menghubungkan semua orang di dunia tanpa perlu repot berkunjung ke rumahnya. Cukup dengan perangkat komputer atau telepon pintar saja, kita dapat “bertemu” dengan semua orang secara real time. Jenis-jenis media sosial pun beragam, ada

Facebook,

Instagram,

Twitter,

Zello,

dan

WhatsApp.

Ada satu lagi media sosial yang kini sedang nge-trend dikalangan tunanetra. Apa itu? Namanya

TeamTalk.

TeamTalk

adalah media sosial yang mekanisme kerjanya berdasarkan sistem konferensi yang menghubungkan sekelompok orang untuk berkomunikasi melalui audio dan video.

TeamTalk

diciptakan pada April 2003 oleh tim pengembang

bearware.dk

yang berasal dari Denmark. Meski sudah berusia 16 tahun, medsos ini baru menjadi topik perbincangan teman-teman tunanetra sekitar tahun 2017, dan mulai berjaya saat 2 orang tunanetra Indonesia,

Muhammad Gagah

dan

Raju Laini,

menerjemahkan aplikasi tersebut ke dalam bahasa Indonesia, ditambah lagi dengan sosialisasi oleh beberapa teman tunanetra di Indonesia.

Mulai saat itu,

TeamTalk

semakin dilirik oleh teman-teman tunanetra. Medsos ini memiliki sistem yang memungkinkan penggunanya mengobrol tanpa harus saling bergantian, melakukan streaming file, mengunggah/mengunduh file, dan masih banyak hal luar biasa lainnya. ketika sekelompok orang tunanetra Indonesia membuat sebuah private server dan akhirnya menghubungkan server tersebut ke

Baca Juga:  Tips Singkat Meminimalisir Budaya Tanpa Tanda Baca Dikalangan Difabel Netra

TeamTalk,

terasa teman-teman di Indonesia sudah punya rumah sendiri. Sebelumnya, untuk bisa berkomunikasi, mereka harus bergabung di server luar negeri, seperti US, UK, German, dll. Namun, server luar negeri tidak mendukung koneksi internet di Indonesia. Jika kita bergabung di server negara luar, ping atau kuantitas jaringan internet menjadi sangat tinggi. Itu berdampak pada kualitas audio dan juga mengakibatkan sering terjadinya pengguna terpaksa keluar dari server.

Berdasarkan peristiwa tersebut, diciptakanlah private server yang sangat ramah dengan koneksi di Indonesia. Bermodalkan komponen-komponen yang terpasang di masing-masing perangkat mereka, secara bergantian mereka menampung segala aktivitas di

TeamTalk

dengan perangkat mereka sendiri. Dengan kata lain,

TeamTalk

akan terkoneksi apabila terdapat PC yang telah terinstal aplikasi-aplikasi yang menciptakan server pribadi yang disebut VPS atau Virtual Private Server. Dalam VPS itulah

TeamTalk

bernaung. Agar tetap bisa terkoneksi, VPS itu harus selalu tersambung ke internet, yang artinya PC harus selalu menyala nonstop. Untuk mencegah kerusakan di PC, para pencetus private server

TeamTalk Indonesia

secara bergantian menyalakan PC mereka dan menghubungkannya ke VPS dengan koneksi internet pribadi. Kadang-kadang VPS-nya mati sejenak dalam perpindahan dari PC yang satu ke PC yang lain.

Baca Juga:  Terbang Bersama Eurofly Bag I

Semakin lama, teman-teman tunanetra semakin minat untuk bergabung. Walau yang dapat menggunakannya hanya orang-orang di Indonesia, tapi tidak menurunkan niat mereka untuk mengobrol atau bahkan juga digunakan untuk belajar. Padahal, berdasarkan pernyataan dari

Rexya Muhamad Rizki,

salah satu pendiri private server Indonesia, tujuan awalnya bukan untuk umum; tadinya hanya untuk pribadi, sekadar untuk kesenangan beberapa orang dan tiada niat untuk lanjut mengembangkannya.  Saking banyaknya yang bergabung, mereka memutuskan untuk membeli sebuah server yang ada di Singapura agar dapat menampung segala aktivitas di dalamnya tanpa harus mengorbankan PC mereka lagi. Selain itu, mereka memperluas jaringan dengan mengirim surat ke tim pengembang agar dapat terdeteksi dalam public server.

Pada tanggal 17 Mei 2018,

public server Indonesia (atau sekarang Infiartt)

telah lahir dengan nama tim

Smart Audio (Infiartt),

dan berada dideretan public server negara lain. Kini

TeamTalk Public Server Infiartt

sudah berusia dua tahun.

Banyak hal positif yang sudah dilakukan bersama

TeamTalk Public Server Infiartt

ini. Seperti berbagi ilmu seputar teknologi informasi dan komunikasi (TIK), diskusi tentang musik, dan hal-hal edukatif lainnya. Pernah juga teman-teman mengadakan beberapa pelatihan, seperti pelatihan NVDA, pelatihan aplikasi Sonar, dan pelatihan bahasa Inggris. Bersama server ini juga, terbentuklah sebuah band yang semua anggotanya merupakan penyandang tunanetra dan berasal dari berbagai daerah.  Namanya

Baca Juga:  Tunanetra Bisa Editing Audio, Bagaimana Caranya?

TeamTalk Band Indonesia.

Hasil karya mereka dapat dinikmati melalui

channel Youtube TeamTalk Band Indonesia.

Untuk dapat berselancar di media sosial

TeamTalk,

tentu teman-teman mesti sudah memiliki aplikasi tersebut. Aplikasi

TeamTalk

dapat diunduh melalui situs resmi pengembangnya di

https://bearware.dk

atau bagi yang menggunakan smartphone, dapat mengunduh di toko aplikasi

Play Store

maupun

App Store

secara gratis.

Apa yang disampaikan dalam tulisan ini mengajarkan kita untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat, seperti menjalin silaturahim dan saling berbagi wawasan serta edukasi. Asalkan sesuatu itu bermanfaat, kita tidak perlu merasa takut akan waktu maupun biaya yang dikorbankan. Selagi tujuannya positif, pasti segalanya dilancarkan. Bagaimanapun tantangannya, pasti selalu bisa teratasi. Tuhan akan senang bilamana makhluknya saling silaturahim dan bisa menjadi manfaat untuk sesama manusia. ***

Penulis: Rino Jefriansyah

Editor: Fugy Iin Saputri

Tulisan ini pernah dimuat di

Majalah Gema Braille

edisi anak-remaja November-Desember 2019. Majalah braille berskala nasional pertama di Indonesia untuk teman-teman disabilitas netra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *