Romansa Ekspedisi, Sekedar Coretan Bersama Sahabat

Editor: Rino Jefriansyah, S. S.

 

Hai Infi Friends. Semalam saya berhasil berdiskusi dengan salah satu sahabat saya yang kece. Membahas sekaligus menulis bersama. Sebuah puisi yang dilengkapi dengan narasi. Happy, jelas! Nah, inilah output-nya!

Romansa Ekspedisi

Karya: Akbar AP dan Mia Firnanda

 

Ini memang tidak tercatat oleh sejarah. Ini hhanyalah satu kemungkinan di antara berjuta kemungkinan, terjadi di masa lampau, ketika sebuah armada besar dan megah, dikomandoi seorang laksamana agung memulai penjelajahan di luasnya samudra, yang menyimpan hal-hal yang tidak pasti.

Membawa beraneka rupa logistik, kebudayaan, barang-barang berharga tinggi, dan kesusastraan termasuk pula di dalamnya.

Tentu berbilang bulan, mereka akan menjumpai sebentuk kerinduan pada orang terkasih, di tanah kelahiran. Tergerak oleh sesuatu, salah seorang awak kapal mengguratkan pisaunya di lembaran daun luntar. Berharap, akan menjadi sebuah warisan dan catatan kecil, bahwa di tengah kemegahan sebuah ekspedisi, tersimpan satu buah romansa dalam larik aksara.

Dia menulis kala malam telah larut. Dia tersenyum seorang diri. Sesekali menatap bersihnya rembulan, yang bercahaya mengemilaukan air laut.

Baca Juga:  Puisi Nobel Asmara

“Salahkan hujan. Dia datang selalu membawa percikkan rindu.

Salahkan malam, selalu hangat mendekap, mengurai, luluhkan dinginnya hati, membarakan api rindu, dengan manis senyummu.

Salahkan rembulan. Yang selalu menampakan parasmu. Membuatku terbang dalam angan semu.

Jika perlu, salahkan samudra yang selalu membuat haus para perindu, kala meminumnya.

Tapi yakinilah, bahwa semesta itu akan memberikan yang terbaik, meski kita terkadang menganggapnya tidak adil.

Benarkan gunung, yang membumbungkan asa cinta ini, bertahta indah di singgasana tertinggi sanubari.

Benarkan langit, yang semoga merestui, dengan curahan kasih yang kekal abadi.

Memang sejauh pelayaran ekspedisi, jalur berliku takdir kita.

Maka bertemanlah dengan harapan dan doa, hingga pantai pelangi tampak di hadapan.”

Dia menarik nafas lega, begitu menuntaskan tulisannya. Setidaknya ini bisa menjadi penawar rindu ketika berada di tanah-tanah jauh.

13 Januari 2021

    1. Prima Agus Setiyawan 22 Januari 2021

    Leave a Comment

berlangganan melalui E-mail

Dapatkan info terbaru dari kami dengan mengikuti kami melalui E-mail sekarang juga!
Name
Email *
error: Konten terlindungi !!
%d blogger menyukai ini: