Catatan Mas Prima Soal Didi Kempot

Penulis: Prima Agus Setiyawan

Editor: Rino Jefriansyah, S. S.

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hai hai haaaaaiiiii visitor! Kembali lagi dengan karya terbaru! Setelah dua (2) postingan sebelumnya tentang tekhnologi, kini di postingan ketiga ada yang berbeda. Apakah itu? Baca sampai selesai!

Pendahuluan

Empat (4) bulan lalu, di seluruh Indonesia, khususnya Sobat Ambyar kehilangan seorang maistro yang punya dedikasi yang tinggi dan bersahaja. Tiga (3) dekade perjalanan karirnya sebagai seniman berawal menjadi pengamen di grup Kelompok Pengamen Trotoar (Kempot) di Jakarta tahun 1986, hingga sukses membuat sebuah karya yang menyentuh hati para penggemarnya, yaitu

Didi Kempot.

Saya tidak membahas biografinya almarhum, tetapi saya ingin berbagi cerita sejak masih kecil sampai sekarang mendengar lagu-lagu karya beliau. Bukan karena suaranya yang khas atau musiknya yang enak didengar, justru liriknya yang menyentuh hati. Wajar, kebanyakan penggemar setelah mendengar lagu-lagu itu akan terbawa perasaannya (baper). Bahkan tak jarang dari mereka ada yang “termehek-mehek” karena saking sedihnya.

Baca Juga:  Puisi Nobel Asmara

Sudah banyak sekali lagu yang beliau tulis. Di antaranya:

Prima Agus Setiyawan
Author: Prima Agus Setiyawan

My name is Prima Agus Setiyawan. I'm a blind people from Yogyakarta. Kelemahan bukan penghalang, justru dibalik keterbatasan inilah ada kelebihan. Selalu bermanfaat meski dalam keterbatasan.

Tinggalkan komentar

error: Konten terlindungi !!