Nostalgia Play Station, sebuah catatan seorang mantan pecandu game

Editor: Rino Jefriansyah, S. S.

 

Bernostalgia dengan masa lalu, rasanya membuatku tidak berhenti tersenyum. Ketika dulu masih kecil, masih senang-senangnya bermain dan melakukan apapun dengan bebas tanpa ada rasa yang membebani. Termasuk, bermain game.

Di usiaku yang kelima, aku sudah mengenal Play Station, salah satu produk impor yang menjamur di masanya. Populer di tahun dua ribuan pada kalangan remaja terutama. Munculnya Play Station, diiringi pula rental peminjaman perangkat game tersebut yang selalu bertambah. Aku tahu persis, sebab bapak pernah membuka usaha rental game PS.
Dari sana pula, aku mulai memasuki dunia PS yang sangat seru, hingga membuatku lupa waktu alias kecanduan. Rasanya, tiada hari tanpa PS. Orang pun ramai mendatangi rental bapak, sekedar bermain satu jam, sampai menyewa perangkat PS untuk beberapa waktu yang disepakati.
Rental bapak begitu populer karena menyediakan vasilitas game yang lengkap, daftar permainan PS yang komplit, dan berlembar-lembar kertas foto coppy password permainan seperti Game Bully, GTA (San Andreas), Down Will, Residen Evil, Mortal Combat, dan masih banyak lagi. Dan, paling kuingat dan berkesan mendalam adalah beberapa orang yang menjadi sahabat karib.
Bersama mereka, aku bermain. Bersama mereka, aku menikmati keseruan demi keseruan PS. Paling enjoy ketika bermain San Andreas.
Game tersebut bisa dimainkan dua orang, menggunakan joistik. Menggambarkan kehidupan kota yang keras, persaingan geng yang ketat, pertempuran melawan para penjahat, sampai pernah mencari masalah dengan pihak kepolisian dan tentara. Pada akhirnya mengalami area keritis berlevel bintang enam, dimana karakter yang dimainkan menjadi buronan militer, baik di udara, air, maupun darat. Umpama penjahat perang Dunia kali kira-kira.
Selain itu, dengan password yang sedikit kuhafal, aku bisa melakukan bermacam hal di game tersebut. Seperti tabrak ledak (jika mobil yang kita kendarai menabrak kendaraan lain, maka kendaraan itu kontan meledak), membuat pesawat jet atau helikopter tempur dalam sekejap, mengubah cuaca, dan lain-lain. Yang jelas, sangat boros ruang jika dijelasin satu persatu, karena lembar password ada sekitar 10 lembar.
Dari game itu aku bisa menyimpulkan, bahwa hidup ini keras dan perlu ditekuni dengan sungguh-sungguh melalui jalan kebaikan yang selalu diperjuangkan, berujung pada kematian yang bersifat kodrati. Ini baru disadari setelah umur lima belas, saat sudah menapaki vase tunanetra. Begitupun dengan game PS yang lain. Aku yakin, pasti ada hikmah yang tersirat.
Pada akhirnya, game PS tidak bersalah terhadap permasalahan jasmani dan rohani para playernya. Tergantung pemakaian sih. Kalau berlebihan alias kecanduan, tentu berdampak negatif semisal kerusakan pada mata, kurangnya kepekaan sosial kita, dan sederet daftar yang sudah barang tentu kita pahami serta telah terposting di berbagai macam sumber baik luring maupun daring.
Dari hal itu juga, aku cuma bisa tersenyum dan tertawa, mengamati para gamer yang kecanduan. Ah, game-game sekarang rata-rata mudah. Tinggal search di internet, sudah banyak ulasan yang memandu. Sementara PS? Harus berani menjajal dengan menerima resiko game over atau bahkan trobel pada perangkat PS.
Jadi saranku gini guys! Jika melakukan sesuatu, secukupnya saja. Jika berlebihan atau melampaui batas kewajaran, maka akan berdampak tidak baik bagi kehidupan kita.
Ibarat kata gelas yang diisi air. Kalau berlebihan, akibatnya akan tumpah berceceran kemana-mana. Itulah temans, sedikit catatanku, dalam rangka mengenang PS versi satu dan dua, yang pernah kufavoritkan saat kecil, dan yang mengalami penurunan minat dari masyarakat beberapa tahun terakhir.

Bantul DIY, 07 November 2020M.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *